• Imanku Tak Setebal Pukat Dosa

    Puisi-puisi jaman remaja, di masa santri Al Muttaqin Jepara yang berserak dibeberapa blog lama, coba saya kumpulkan lagi buat nostalgia cerita lampau :D. ==================== Senin; Ku catat duka gundahku Dari atap segala arah Putih kusam, mewarnai Gundah yang munajadku Tak bercermin mulia Aneh memang, Atau imanku tak setebal Pukat dosa; Dan sembari terus bertanya-tanya ihwal itu; Memenuhi relung-relung hati Entah ilham atau bisikan Setan. Membayang-bayangi mimpiku. Sehingga lelap tidurku seperti Terlentang di sofa neraka Rabbi…, rabbi… Aku menyebutmu, aku menyebut Kebesaran-Mu Dan terus terpatah-patah, kataku; Nafasku engah Sepanjang petang, rabbi pun Mengilhamiku; Agar bermunajad, simpuh diharibaan-Nya ===================

  • Ku Perjuangkan Dirimu

    Kudaki setiap tebing takdir yang Engkau gariskan. Ku perjuangkau dirimu, dimanapun kau bersemayam. Yang menanti dengan kukuh akan keajaiban cinta di keharibaanmu Aku akan datang, nantikan aku; lelaki sejatimu. Sebentar lagi. Tebing ini hanyalah ujian sebagai bentuk cinta pada-MU. Dan atas cinta yang Dia titipkan untuk menjagamu, kan ku ikhtiarkan. Segera! Sampai kapan? Hingga Dia mengijinkanku tahu dan membacakannya; nama-mu yang ditulis hitamkan oleh al qolam Dalam histori hidup kita di Lauhul Mahfudz. 01052017:11:11

  • Idlib, Hariku Syahid

    Sebuah puisi untuk mengenang kekejaman pasukan koalisi syi’ah Iran dan Syiria dengan komunis Rusia, yang membombardir Idlib dengan bom kimia. Idlib kembali diserang, Bom-bom membabi-buta pasukan koalisi Bahkan kematianku tak sempat kutangisi, Aku tergagap, sakit nyeri; tapi bahkan aku tak mampu menitikkan airmata derita. Sayup-sayup kudengar pekik takbir disana, Sayup-sayup kudengar histeris duka, Ai… Telingaku sekarat Mataku berkunang… Aku tergagap, oksigen yang kuhirup 1 menit lalu habis. Aku tercekik, kuhirup tapi tak mampu menghirup. Ah, Ya Allah inikah? Inikah saatnya aku; Menemani syuhada’ yang beberapa windu lalu ku kafani? Bahkan denging di telingaku telah sepi. Gelap… Gelap… Asyhadu… Alla… Ilaaha… Illallah… Ini hariku Syahid… Hamam, ditengah malam, saat itu hari…

  • Kisah Cinta Yang Tak Terungkap

    Oh Tuhan, tiap kali aku dengar namanya hati ini berguncang, tubuh ini kaku dan fikiran ini tak bekerja dengan baik. Mungkin aku berlebihan tentangnya, tapi sumpah memang hanya dia sosok yang mampu menciptakan suasana ini. Bahkan untuk menyebut namanya saja lisan ini kelu, antara suka, kagum, hormat atau cinta entah hampir tak bisa kubedakan. Aku suka padanya, aku kagum padanya, aku mungkin juga mencintainya. Perasaan yang tak bisa diungkapkan. Apa kau terlalu angkuh untuk mengakuinya? terlalu angkuh untuk jujur? Tidak ya Rabb, aku hanya ingin memendamnya, menantika kuasaMu; apakah dia yang menjadi takdirku, menjadi imam takbir, rukuk dan sujudnya kepada-Mu. Aku hanya ingin menjaga kisah dan perasaan ini tetap utuh…

  • Puisi: Para Embun

    Sahabat Ketika mentari belum menyeringai di ufuk timur. Sejenak rintik embun dari bilik lazuardi, Hendak mengusap hatimu; Lembutnya ingin mengingatkan, Pada kuasa Yang Maha Esa Embun sahabat kita, menyapamu tiap fajar Membelaimu atas luka dari; Kejahatan manusia, melukaimu Embun tak lelah, meski kau Tak bersenyum menyapanya, karena Bagi embun, lembut adalah jiwa Sejati abadi nuraninya Manusia, apalah kita tak menyadari, tiap sepertiga malam; para embun telah mengunjungimu, menunggu lama akan hadir membelai cucu adam ini. Sekalipun tak satupun janji keduanya tapi kau enggan menyambut, bahkan egomu menuntut pada perlamunan mimpi, ia tetap ada di sisi istanamu. Maukah engkau menjadi teman Embun, Embun pun tak peduli, engkau Berkehendak atau tidak, ia…

  • malaikat-malaikat

    Menjadi Malaikat Kecil-Mu

    Asap dari letupan-letupan bom membumbung tinggi bertahun-tahun Gaza menjadi saksi. Hiru pikuk derita duka di negeri baitullah ini menjadi irama suci kehidupan. Siapa membela kami, dan kau hanya do’a harapan kami itu saja; Biarlah kami terus berjuang. Walau aku bukan pria dewasa segagah kau. Kecil-kecil begini aku sudah mahir bersenjata, walau aku belum lagi baligh. Toh telah biasa membela diri. Aku sudah kuat, sudah tegar menjadi lelaki sejati. —————————————- Bahkan malam pun, tiada keheningan. Pokoknya tiada senggang waktu buat aku menangisi nasib. Sepanjang hari untuk berjuang, Memerdekakan islam, menjadi muslim yang merdeka. Masih dalam larut malam, diantara dentuman keangkuhan Yahudi. Kugelar sajadah diatas reruntuhan masa laluku dan; dalam takbir, tahmid serta…

  • Damaskus

    Damaskus,Ada apa di negerimu?Semalam aku memimpiAda Firaun kembali bertahtamenghayalkan dirinya bak tuhan,ataukah sebetulnya iblis pencabut nyawa?   Damaskus,air mata dukamu telah kering.bahkan seandainya mata butatelingamu bertuli adalah karunia-Nya.kau mematung bingung. Saudaramu, telah luluh lantak.Aleppo bak kota matidan Firáun makin jumawa.Oho… Air mata tak mampu lagimengiringi duka hati.   Damaskus,Mari kita ungkap luka yang telah mewindu inisudah teramat dalam.Barangkali Allah hendak memulyakan pemujanya Damaskus.Mari kita panjangkan malam,dengan bersengguk do’a danduplikat nyawa,tuk goncangkan singgasana hamba ingkar itu.

  • Puisi Sahabat, Rindu Dan Masa Lalu

    Satu Ai… Sahabat Berjuta rasa rindu dalam kalbu ini Sudah luap, luber aliri anak kali Masihkah kau ingat? Sesaat, tiga ratus enam puluh detik waktu kita berjingkrak bersama atau malam ketika hilang dari peredaran, menerobos pagar batas santri manusiawi dan susuri anak kali musiman. Langkah kita yang dulu gegas kelanai malam dijalanan dan kau berteriak hentikan laju sedan “ngompreng pak… Ngompreng…” Duhai, mari kita senyumi masa lalu itu. Satu bataliyon santri berandal, Mencari jati diri di posko-poski internet atau sekedar lepas lelah diwarung-warung nasi kucing Kulihat wajah bahagia kita yang disinari cahaya lilin yang temaram. Dua Ai… Syair ini barangkali hanya aku dan kau pahami. Rindu, oh rindu Kapan kan bersua,…

  • Kepasrahan

    Enteh apa yang harus Ku dendangkan pagi Ini Satu menyatu sendi Taqdir, kueja dan baca; Diaskara yang bisu Membatu Takkan Jenuh, kun anti Titik-titik kepastian; Teka-teki kehidupan Karena jiwa ini telah Begitu pasrah di genggam Kuasa rabbil alamin Karena; diriku bukan Penggenggam Takdir. (kota ukir 09 januari 2012) Nb: Judul asli “Takdir”

  • Ar Rahman

    Ar Rahman… Ar Rahim… Gema dzikir memuji-Mu terus berkumandang. Bahkan bukan segala dzikir yang diucapkan oleh orang-orang yang menipu dirinya dengan dzikir. Pujian ini adalah ketulusan abadi hamba-Mu dari bumi zaitun. Bahkan dzikir ini selalu diikuti derai air mata, memohon; kasih sayang-Mu, restu-Mu dan kekuatan dari-Mu ya rabb. Demi-Mu pemilik Al Aqsa… bukan hanya air mata dan dzikir yang kami persembahkan untuk-Mu wahai tuhan yang Maha Perkasa. Darah ini, yang menggenangi bumi-Mu telah menjadi saksi. Nyawa titipan ini, telah menemui-Mu dengan kedamaian ya Al Jabbar. ***** Sekarang hamba-Mu, manusia yang paling engkau kutuki itu; kembali menentang Kebesaran-Mu, angkuh didepan Kekuasaanmu ya Al Jabbar. Kami, hamba yang tiada daya tak letih…