Note

Pesona Alam Banyuwangi Tiada habisnya

Beberapa waktu lalu ketika isu tentang pindahnya ibukota negara bergulir, Bupati Banyuwangi termasuk yang mendorong pemerintah pusat memilih Banyuwangi sebagai tempat project besar ini.

Walau sudah pasti bakal diabaikan, tapi ini menarik. Dalam touring yang saya nikmati, Banyuwangi memang tidak kekurangan apapun dalam hal sebagai ibukota, misalnya ketersediaan tanah yang cukup, ada laut dan banyak hal lain.

Dan pastinya pesona Banyuwangi sebagai desnitasi wisata juga luarbiasa, pantai laut selatan sangat dikagumi turis baik dalam maupun luar negeri, ada juga banyak gunung yang siap di taklukkan pengiat alam, ada kawah Ijen yang tiap harinya selalu ramai dikunjungi pengunjung dalam dan luar negeri.

Tapi seperti kondisi yang sebelumnya saya ceritakan dalam traveling ini, cuaca yang kerap hujan membuat perjalanan ini banyak yang dibatalkan, semenanjung panatai selatan Banyuwangi yang sebenarnya menyesal untuk dilewatkan, pantai pulai merah, wedi ireng dll harus saya cencel. Tujuannya langsung ke kota Banyuwangi mencari penginapan untuk istirahat. Perjalanan Malang, Lumajang, Jember hingga Banyuwangi dalam suasana hujan dan gerimis membuat saya tidak fit.

Satu-satunya spot yang terjunjungi cuma Kawah Ijen, tambah lelah lagi karena mendaki hampir 2000 Mdpl.

Banyak hal menarik di pendakian Kawah Ijen, terutama ketika bertemu para penangkut batu belerang dari pusat kawah, melihat para ayah yang heroik banting tulang demi rezeki halal untuk keluarganya.

Untuk menuju kawah mereka harus turun 800 meteran, dengan kondisi jalan bebatuan yang sangat terjal. Kemudian naik lagi 800 meteran dengan memanggul puluhan kilogram belerang.

Inilah para ayah yang jadi pahlawan keluarga mereka, seberapa cintanya kamu pada Ayah Ibumu?

Kuliner ke khasan Banyuwangi juga tak boleh saya lupakan, beruntung tempat saya menginap menyuguhkan salah satu makanan ciri khas kabupatan ujung jawa timur ini. Namanya sego tempong (sego berarti nasi, tempong berbarti tamparan/tinjuan) rasanya sesuai nama, pedesnya nonjok banget.

Membaca dan menulis adalah kunci majunya sebuah peradaban dunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *