Note

Millenial Melek Politik: Stop Cinta Buta

Assalamu’alaikum hai semua… 2019 adalah tahun yang sibuk bagi Indonesia, sibuk karena akan ada pemilihan presiden dan legislatif, bahkan riuhnya sudah terjadi sejak pertengahan 2018 dengan berkembangnya dunia teknologi dan ramainya sosial media sebagai corong propaganda masing-masing calon dan pendukungnya.

Berangkat dari sosial media sebagai basis kampanye, dipastikan masing-masing calon akan menargetkan kaum millenial sebagai massa pendukung mereka. Mengingat panasnya perseteruan pemilu di tahun 2014 yang lalu antar pendukung lebih banyak simpatisan muda.


Direktur Eksekutif Perludem Titi Anggraini ungkapkan berdasar data, pertisipan pemilu dibawah 40 tahun mencapai 40% dari total 160 juta partisipan. [sumber: kompas.com]

40 % itu nominal yang sangat besar, terlebih obrolan politik era digital lebih dominan pemilih di usia ini, Jadi 40 % itu sangat mempengaruhi 60% pilihan partisipan usia lanjut.

Pemilih muda dinilai lebih efektif bagi masing-masing calon, ketika mereka sudah mendeklarasikan dukungan otomatis akan jadi timses gigih tak resmi keuntungannya tentu tak akan menuntut kursi jabatan :D.

Nah kamu atau kita (saya juga anak millenial bo’) sebagai target timses para kandidat harus lebih smart. Dalam artian tidak cinta buta, karena kalau sudah terjebak asmara buta terhadap salah satu calon presiden, hanya akan dimanfaatkan sebagai propaganda dan keributan tingkat nasional.

Letupan perang politik ini sudah terjadi lho, apalagi sejak Jokowi – Prabowo mendeklarasikan pencalonannya. Berbagai isu muncul saling serang, adu strategi sayang naasnya miskin gagasan.

Kenapa miskin gagasan? Karena yang diekploitasi bukan ide-ide cemerlang untuk memperbaiki bangsa, tapi justru intai-mengintai kelemahan lawan, saat ada celah segera menjegal.

Parahnya kondisi ini diamini media mainstream yang dibeli atau punya kontrak politik dengan para kandidat. Netralitas hilang bersama kepulan asap di awan.

Generasi Millenial Bukan Alat Politik

Para millenial harus cerdas jika ingin Indonesia lebih baik, siapapun yang kita dukung jangan terjebak pada cinta mati, nalar tetap digunakan sehingga ketika kandidat kita benar, teguh membela, lalu saat salah kita turut berperan sebagai millenial yang kritis.

https://hamamlog.com

Tujuan keikut-sertaan kita dalam perseteruan politik bukan melindungi sang kandidat, melainkan kontribusi sebagai rakyat agar Indonesia jadi lebih baik.

Kita bandingkan saat SBY menjabat, cebong hanyalah anak katak yang bermetaformasis di kubangan, dan kampret cuma kelayapan mengelanai malam. Tapi kini aktif dengan keributan di internet, dunia manusia dengan debat yang tak subtansif.

Saat ini tema krusial yang harusnya jadi debat publik adalah isu ekonomi dan perselisihan horizontal. Jadi untuk mengukur siapa kandidat yang lebih baik adalah siapa yang bisa memberikan gagasan hebat untuk menyelesaikan 2 problem ini.

Terakhir saya sebagai pendukung prabowo juga mewakili millenial di dunia blog, berharap yang lebih baik untuk bangsa dan rakyat.

Credit featured image: mentatdgt from Pexels

Membaca dan menulis adalah kunci majunya sebuah peradaban dunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: