Bila Allah Yang Kau Cinta Bila Surga Yang Kau Damba

Tak seorang muslim pun melainkan mengenal Allah dan hanya segelintir yang tahu mengenal surga. Mudahnya semua mengenal Allah, menyatakan bahwa dirinya mencintai  Allah sepenuh hati dan ia pun mendambakan surga-Nya. Namun naasnya dan hingga kini masih menjadi persoalan, begitu banyak umat Islam mengenal Allah sekedar tahu bahwa Dia adalah Rabb mereka, pencipta alam ini namun tak mengerti hakikat yang harus diketahui oleh manusia diantaranya ma’rifatullah dan tauhidullah.

Angan-angannya pun tinggi dalam mendamba syurga tanpa tahu menahu apa hakikat yang menyebabkan seseorang berhak menjadi penghuninya.

Hingga karena kebodohan itu ia menempuh wrong way, dampaknya bukan balasan cinta Allah yang ia dapat, bukan surga Allah yang ia raih justru murka Nya.

Akhirnya diantara umat Islam banyak yang bergelimang kesyirikan, satu dosa yang tak terhingga akibatnya. Disebabkan tak mengetahui hakikat cinta kepada Allah.

LEBIH DALAM TENTANG CINTA

Cinta dalam diri manusia secara alamiyah memiliki dua naluri.

    1. Naluri mencintai ilahy, yaitu naluri untuk memiliki dan mencintai tuhan, hatinya akan merasakan kehampaan dan kekosongan bila tak memiliki “tuhan” yang menjadi tumpukan tempat mengadu dan memohon (banyak terjadi pada orang-orang paganis). Secara alamiyah manusia begitu sensitive pada naluri ini. Sebagaimana yang dilakukan oleh manusia sejak dahulu kala.

Diantara mereka ada yang diberi petunjuk dalam masa pencarian itu, contoh kongkritnya adalah sebagaimana yang terekam dalam Al Qur’an  kisah Ibrahim ‘alaihissalam mencari tuhan.

“Dan Demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (kami memperlihatkannya) agar Dia Termasuk orang yang yakin” (Q.S. Al ‘An’am : 75)

Hingga ayat selanjutnya menceritakan petualangan  Nabi Ibrahim ketika malam tiba ia melihat bebintang “Inilah tuhanku” ujar hatinya, namun tatkala  bebintang itu hilang Ibrahim kecewa, lantas meninggalkannya.

Di lain waktu begitu melihat bulan, lagi-lagi hatinya menduga bahwa bulanlah Tuhannya, akan tetapi kembali kecewa saat fajar menyingsing bulan itu tenggelam.

Di pagi hari matahari muncul hangat di ufuk timur Ibrahim muda  bergumam serupa sebelumnya, namun beliau harus kecewa sebab matahari tenggelam yang pasti tak menjadi tuhan di negeri lain. Begitulah penggambaran itu, hingga Allah mewahyukan jalan yang lurus padanya.

Kisah lain adalah bertahannusnya Rasulullah sebelum nubuwwah dan pengutusan beliau sebagai rasul terakhir. Beliau mencari kebenaran dan meninggalkan berhala-berhala kaumnya, Kemudian Allah memberikan wahyu-Nya:

            “Dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu” (Asy Syura : 52)

            “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung[1583], lalu Dia memberikan petunjuk” (Adh Dhuha : 7)

Diantarnya pula ada yang tersesat disebabkan kebodohan dan keputusasaan untuk mendapat kebenaran hingga diujung jalan mereka menyembah segala hal yang diyakininya sebagai “Tuhan” baik berupa patung dan sebagainya untuk menyalurkan dan meyakinkan hatinya bahwa ia memiliki tuhan yang menciptakan dan memberi segala sesuatu.

  1. Naluri manusia untuk mencintai makhluk dan apa saja yang menjadi kebutuhannya. Dengan naluri ini manusia “normal” mencintai sesamanya, wanita, hewan, harta serta lainnya. Tentunya dengan bentuk dan porsi yang berbeda dalam mencintai semisal cinta seorang terhadap lawan jenisnya sudah barang tentu berbeda bentuk dan porsi dalam mencintai terhadap saudaranya.

KARENA ALLAH TAK RELA DIMADU

Kedua naluri di atas jika kita bandingkan jelas amat berbeda, manusia dalam menerapkan naluri cinta pada makhluk, secara konsep Islam adakalanya boleh, bahkan disyariatkan adanya perserikatan misal mudahnya adalah poligami, menikahi wanita lebih dari seorang hingga empat. Bentuk cinta disini adalah menikah karena porsi mencintai wanita yang dihalalkan Islam adalah dengan cara menikah.

Sementara Islam dalam mendudukkan naluri mencintai Allah dengan tegas mengharamkan menserikatkan Nya dengan sesuatu apapun, mengapa ? Karena Allah tidak rela dimadu. Allah mengharamkan manusia menggandakan Tuhan, karena Dia Maha Tunggal, Allah mengharamkan hamba Nya mencintai Tuhan selain Nya, karena Dia ialah Pemberi rizki, rahmat dan nikmat. Dia Pencipta semesta ala mini serta segala isinya. Dalam banyak ayat Allah nyatakan ketidak relaan Nya, diantaranya :

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu[106] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).(Q.S. Al Baqarah :  165)

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun” ( Al Maidah : 72)

Dalam hadits qudsi Allah berfirman pula ; “Wahai anak Adam sesungghunya kamu walaupun mendatangiKu (di hari kiamat) dengan dosa sebanyak isi dunia kemudian kamu tidak menyekutukanKu dengan sesuatu, niscaya akan aku datangkan pula ampunan yang sebanyak itu untuk mengampuni dosa-dosamu (H.R. Tirmidzi)

CINTAI ALLAH SEUTUHNYA

Sesungguhnya Allah ridhai dari hamba Nya ialah mencintai Nya dengan seutuhnya cinta, ikhlas murni mengharap cinta dan ridha Nya. Sebaliknya Allah begitu murka terhadap hamba yang menyekutukan Allah, dimana dengan kesyirikan itu berarti sang hamba telah menyamakan Nya dengan sesuatu yang jauh sangat tak patut, Dia berfirman :

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia ( Q.S. Asy Syura : 11)

Allah tak patut diserikatkan dengan pohon atau batu kramat, Sang Khaliq tak patut disandingkan dengan apa yang telah diciptakan Nya hal itulah yang Allah katakana sebagai kedzaliman.

“ Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (Q.S. Luqman : 13)

Allah mengutus manusia pun tujuan utamanya adalah menyeru manusia agar mencintai Allah seutuhnya.

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut” ( Q.S. An Nahl : 36) ayat senada pada ( Q.S. Al Anbiya : 25) Nabi nuh mengajak kaumnya untuk itu pula Nabi Hud (Al A’raf : 65) Nabi Ibrahim ketika menasehati ayah dan kaumnya dengan materi yang tak berbeda (Q.S. Zuhruf : 26 – 27) Nabi Yusuf berdakwah pada dua temannya saat dipenjara (Q.S. Yusuf : 39 -40) Hingga Nabi Muhammad SAW ketika berdakwah di Makkah.

Seseorang belum mencintai Allah seutuhnya bila ia tidak mengimplementasikan diantara hal-hal berikut :

  •     Menyembah dan ibadah semata pada Nya.

  •     Meyakini dalam sanubari tiada sesembahan yang haq disembah melainkan Allah.

–     Tidak mengkeramatkan sesama makhluk meskipun mereka memiliki kelebihan.

  •     Segala manfaat dan madharat datangya hanya dari Allah.

  •     Serta pembatal-pembatal keimanan lainnya.

 

Wallahu a’lam bish-showab.

Credit foto: Pezibear

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: